Loading...
Kamis, 25 Juli 2013

Rakyat Pendukung Jokowi Dianggap Tidak Punya Imajinasi

Rakyat Pendukung Jokowi Dianggap Tidak Punya Imajinasi


Saya beberapa kali membaca komentar kritis dari pengamat atau akademisi atau facebooker, yang mengritik fenomena seolah-olah masa depan Indonesia tergantung pada figur atau tokoh tertentu. Entah tokoh itu SBY, Prabowo Subianto, Wiranto, Megawati, Jusuf Kalla, Aburizal Bakrie, Pramono Edhie Wibowo, Hatta Rajasa, Dahlan Iskan, dan terakhir yang digadang-gadang sebagai tokoh populer yang elektabilitasnya sangat tinggi adalah Jokowi.

Membanjirnya dukungan kepada Jokowi dari masyarakat awam dinilai sebagai bukti bahwa rakyat Indonesia belum matang, belum dewasa, masih terbawa romantisme ketokohan. Rakyat dianggap "tidak punya imajinasi" politik untuk mampu melihat melampaui fenomena ketokohan tersebut. Popularitas Jokowi disamakan atau diidentikkan dengan popularitas SBY tahun 2004 dan 2009 ketika SBY menang telak, mengalahkan capres-capres lain. Terbukti kepemimpinan SBY mengecewakan dan rakyat sekarang dituding akan mengulangi kesalahan masa lalu, memilih pemimpin hanya berdasarkan popularitas.

Saya di sini tidak akan membuat analisis akademis, tapi berangkat dari pengalaman keseharian sebagai rakyat, yang tiap hari harus naik angkutan umum, tiap hari resah dengan kenaikan harga barang-barang kebutuhan hidup, tagihan likstrik, telepon, PAM, dll. Rakyat kita memang sederhana. Kalau disuruh mencari pemimpin alternatif, disuruh berimajinasi "melampaui fenomena ketokohan," mereka akan bingung.

Bagaimana menemukan "satrio piningit" tersebut, pemimpin yang betul-betul bekerja untuk rakyat. Larinya akan ke mitos Ratu Adil atau Imam Mahdi yang tak tahu kapan datangnya. Rakyat berpikir praktis, akhirnya. Mereka bilang: Setuju, jangan memilih Presiden cuma dari melihat popularitas. Tapi apakah popularitas Jokowi itu tanpa dasar? Tanpa alasan? Tanpa bukti kerja yang sudah dilakukan.

Kalau memang betul ada alternatif lain yang lebih baik dari Jokowi, kami pun akan mendukung. Tetapi di manakah yang lain itu? Tunjukkan orangnya. Siapa?. Karena dari stock yang ada, kalau rakyat tidak memilih Jokowi ya rakyat harus memilih salah satu dari mereka ini: Prabowo, Hatta Rajasa, Wiranto, Aburizal Bakrie, Megawati, Jusuf Kalla,... dll. Dan rekam jejak mereka sudah dibaca oleh rakyat. Di manakah "satrio pingingit" itu bersembunyi, jika dia memang ada sekarang? Ataukah justru jangan-jangan Jokowi itu adalah "satrio piningit" yang selama ini ditunggu-tunggu?

0 komentar:

Posting Komentar

 
TOP